Selasa, 15 Mei 2012

Hasil Diskusi Tentang TKI


Marak Kasus TKI yang Semakin Sadis dan Bengis

TKI adalah tenaga kerja Indonesia yang bekerja di luar negeri demi mendapatkan pekerjaan. Tenaga pekerja ini di pekerjakan di luar negeri dengan mendapat perlindungan dari Negara. Setiap masalah yang terjadi dengan para TKI dapat kita lihat secara detail dan jelas di berbagi media tulis maupun media televisi. Di berbagai media massa memang membantu untuk mendapatkan informasi mengenai masalah atau kasus yang terjadi pada TKI yang bekerja di luar negeri. Untuk saat ini tidak kita pungkiri bahwa sebenarnya TKI yang ada di luar sana sedang di siksa dan menjadi korban dari kebengisan orang luar negeri. Penyiksaan yang terjadi terhadap Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dalam kurun waktu 10 tahun terakhir jumlahnya semakin terus meningkat. Penyiksaan yang kerap terjadi pada buruh migran Indonesia yang berada diluar negeri terlihat jelas telah terjadi pelanggaran-pelanggaran HAM yang mereka hadapi namun ironisnya seakan-akan kurang mendapat perhatian dari Pemerintah Indonesia. Seperti pada kasus yang baru kita dengar yaitu dugaan perdagangan organ tubuh para TKI yang ada di Malaysia. Beberapa tahun yang lalu sangat banyak permasalahan yang terjadi pada Malaysia dan Indonesia. Dengan berbagai isu yang tersebar sangat membuat pandangan yang sangat buruk dengan perlakuan Malaysia sebagai Negara tetangga yang bekerja sama dalam perjanjian TKI yang di pekerjakan di Malaysia. Dengan adanya kasus dugaan perdagangan organ tubuh TKI akibat penembakan terhadap ketiga TKI yang di duga di pergoki sedang melakukan tindak kejahatan dan melawan saat akan ditangkap dengan pihak kepolisian Malaysia. Akan tetapi, karena ada perlawanan kepolisian Malaysia menembak beberapa kali ketiga TKI tersebut. Untuk itu di lakukan otopsi atau pemeriksaan pada jenasah korban penembakan tersebut di Malaysia sebelum dikirim ke Indonesia. Saat sudah di makamkan, timbul kecurigaan yang membuat pihak keluarga bertanya-tanya, apa yang sudah dilakukan oleh ketiga TKI sehingga membuat nyawa melayang. Sebenarnya terdapat hukum yang melindungi para TKI yang ada di luar negeri tersebut. Dalam undang-undang Nomor 39 Tahun 2004, tentang Penempatan dan Perlindungan TKI di Luar Negeri. Meski banyak TKI ilegal pun sebenarnya memiliki perlindungan dari hukum Indonesia. Oleh karena itu, sebenarnya pemerintahan Indonesia harus lebih bias bersikap dan menindaklanjuti apa yang sedang terjadi dengan TKI yang berada di Luar Negeri dengan berbagai masalah yang ada. Kurang tegasnya pemerintah dalam hukum membuat TKI semakin sengsara, sebab tak ada perlindungan yang mereka dapatkan dengan kontribusi yang sudah di berikan untuk Negara sendiri. Peran pemerintah yang kurang tegas juga di imbangi dengan peran media massa yang menyebarluaskan isu, sedikit isu yang dibahas tanpa ada solusi yang di berikan oleh pemerintah. Media menggunakan kesempatan untuk menarik perhatian public agar semua isu semakin marak, tapi setelah lama tidak ada solusi diganti dengan isu yang lain. Sama seperti kerja dan cara pemerintah membuat ketegasan untuk menyelesaikan permasalahan TKI yang terjadi dan menelan banyak nyawa tanpa alasan yang jelas. Seharusnya pemerintah harus lebih aktif dan bergerak untuk menyelesaikan permasalahan yang ada pada rakyat, demi tujuan yang dicita-citakan bersama. Untuk media massa pun seharusnya membantu peran pemerintah serta masyarakat dalam bentuk apapun untuk membantu menyelesaikan masalah rakyat.



 


 





Nb : Data yang lebih lengkap untuk lebih mengetahui Undang-undang perlindungan TKI dapat berkunjung di tempat kami, JL. Kartini no 20, Jember. Atau alamat email: Tamanbacarakyat@gmail.com.





Biro Agitpro dan Ketua Taman Baca Rakyat

Senin, 12 Maret 2012

pengemis model baru


Runtuhnya Mentalitas Anak Bangsa
            Keindahan serta kokohnya bangunan yang nampak di bangsa kita menandakan  bahwa kemajuan fisik di Indonesia semakin berkembang pesat. Keadaan seperti itu, juga terealisasikan dengan semakin terangnya cahaya lampu yang menghiasai pusat-pusat kota, megahnya bangunan-bangunan yang kian hari kian marak sebagai ladang investor-investor asing sehingga menggeser pemukiman-pemukiman masyarakat miskin kota. Keadaan tersebut semakin menimbulkan kesenjangan yang cukup berarti, bagi “si miskin” akan semakin berharap dengan pemberian “si kaya”, dan orang yang termiskinkan semakin pasrah akan keadaan yang membelenggu mereka. Pemandangan yang mengerikan kita saksikan, disaat semakin berjubelnya “si miskin” dengan menengadahkan tangan cuma mengharap belas kasihan berupa beberapa keping recehan yang diberikan oleh “si kaya”, demi mengenyangkan ”beberapa” perut yang kelaparan.
            Hal demikian juga nampak di Kabupaten Jember, dimana keindahan lampu kota beserta indahnya alun-alun kota yang kian lama masih ditambal sana sini. Namun, kita lihat  keadan seperti itu mampu menghipnotis masyarakat yang ingin menikmati keindahannya, sambil bercengkerama, berolahraga, yang lirik sana lirik sini, atau bahkan mereka yang berjuang memeras keringat untuk menyambung hidup mereka. Tetapi, realita ditengah-tengeh itu semua ada penghias yang menampilkan ciri pembeda yaitu sosok pengemis. Apakah pengemis itu?, apakah mereka yang meminta-minta?, atau mereka yang iseng karena tidak ada pekerjaan lain?, atau bahkan mereka yang berani malu untuk menjual harga diri mereka demi beberapa keping uang recehan. Disini pengemis kami artikan sebagai jiwa atau mental peminta-minta, jadi bukan karena keadaan sosial dalam kategori miskin, pengangguran, tak berpendidikan. Jadi bukan karena keadan seperti inilah masyarakat Indonesia bermental peminta-minta. Namun ketika yang ditekankan pada sisi jiwa atau mental dari para pengemis, maka akan ditemukan segudang permasalahan yang harus dipecahkan.
            Wajar saja jika seorang pengemis mengatakan “mengemis itu bukan sesuatu hal yang hina, mengemis adalah  sesuatu hal yang halal karena pekerjaan sekarang sulit didapatkan”. Tenyata mereka sudah terhegemoni bahwa meminta-minta itu jalan pintas yang mudah untuk dilakukan tanpa harus melakukan usaha yang maksimal selayaknya orang bekerja pada umumnya; entah yang bekerja sebagai kuli, tukang becak, penjual pecel dan kaum kecil lainnya. Padahal mereka tersebut mengeluarkan modal, baik material dan imaterial agar mereka memperoleh sejumlah penghasilan. Bagi mereka mengemis sudah menjadi pekerjaan tak beresiko, serta tak mengharuskan adanya modal (materi). Namun, perkembangan keadaan mereka selolah-olah semakin menampakkan dinamika kehidupan yang sifatnya mengarah pada pengembangan daya kreatifitas manusia. Sekarang kita dapat membagi kategori pengemis menjadi dua yaitu; pengemis konvensional (mereka yang meminta-minta dengan cara biasa), dan pengemis profesional (mereka yang meminta-minta dengan setumpuk bendelan kertas dalam  bentuk serangkaian kata-kata halus, lembut, serta data-data yang merayu, tapi pada intinya mereka hanya menginginkan beberapa lembaran rupiah).
            Ternyata daya kreatifitas masyarakat telah bergeser menjadi kreatifitas yang melemahkan kekuatan dalam memperjuangkan hidup. Berbeda halnya dengan “Bangsa kita tidak akan merdeka apabila bangsa kita sewaktu itu sebagai Bangsa peminta-minta”. Ingat dalam merebut kemerdekaan, rakyat bangsa ini melewati perjuangan yang sangat keras sampai  titik darah penghabisan dan direlakannya nyawa demi kemerdekaan. Mengapa, setelah  bangsa ini merdeka, sebagian rakyatnya  malah menjadi bermentalkan peminta-minta.
            Apakah kita seterusnya akan menjadi masyarakat yang peminta-minta hanya untuk mempertahankan hidup, sedangkan para anak bangsa sewaktu merebut kemerdekaan rela mengorbankan nyawa mereka, alangkah mundurnya mental masyarakat Negri ini, untuk mempertahankan hidupnya saja mereka rela untuk menjual harga diri.Hanya ada dua pilihan tetap menjadi peminta-minta atau mengubah jiwa serta mentalitas kita menjadi seseorang yang berdikari.
“Tetap menjadi peminta-minta adalah proses penghapusan  jati diri bangsa, tetap berdikari dalam mempertahankan hidup adalah suatu keharusan.”

                                                                                                                          Biro Litbang
KS GmnI Jember

Selasa, 18 Oktober 2011

INDONESIA

Jikalau aku berdiri di pantai Ngliyep
Aku mendengar Lautan Hindia Bergelora membanting di pantai Ngliyep itu
Aku Mendengar lagu Indonesia
Jikalau aku melihat sawah-sawah yang menguning-menghijau
Aku tidak melihat lagi batang-batang padi yang menguning-menghijau
Aku melihat Indonesia.
Jikalau aku melihat gunung gunung
Gunung Merapi, Gunung Semeru, Gunung Merbabu, Gunung Tangkuban Perahu, Gunung Kalabat, dan gunung-gunung yang lain
Aku melihat Indonesia.
Jikalau aku mendengarkan lagu-lagu yang merdu dari Batak, bukan lagi lagi Batak yang kudengarkan
Aku mendengarkan Indonesia.
Jikalau aku mendengarkan Pangkur Palaran dari Jawa, bukan lagi Pangkur palaran yang kudengarkan
Aku mendengarkan Indonesia.
Jikalau aku mendengarkan lagu Olesio dari Meluku, bukan lagi aku mendengarkan lagu Oleisio
Aku mendengarkan Indonesia.
Jikalau aku melihat wajah anak-anak di desa-desa dengan mata bersinar-sinar berteriak “Pak, Merdeka!, Pak, Merdeka!, Pak, Merdeka!”
Aku bukan lagi melihat mata manusia,
Aku melihat Indonesia.
Sebuah apresiasi yang tinggi dari para penyair terhadap perjuangan Bung Karno mewujudkan sebuah negara bernama INDONESIA.