Runtuhnya
Mentalitas Anak Bangsa
Keindahan serta kokohnya bangunan
yang nampak di bangsa kita menandakan
bahwa kemajuan fisik di Indonesia semakin berkembang pesat. Keadaan seperti itu, juga
terealisasikan dengan semakin terangnya cahaya lampu yang menghiasai
pusat-pusat kota, megahnya bangunan-bangunan yang kian hari kian marak sebagai
ladang investor-investor asing sehingga menggeser pemukiman-pemukiman
masyarakat miskin kota. Keadaan tersebut semakin menimbulkan kesenjangan yang
cukup berarti, bagi “si miskin” akan semakin berharap dengan pemberian “si kaya”,
dan orang yang termiskinkan semakin
pasrah akan keadaan yang membelenggu mereka. Pemandangan yang mengerikan kita
saksikan, disaat semakin berjubelnya “si miskin” dengan menengadahkan tangan
cuma mengharap belas kasihan berupa beberapa keping recehan yang diberikan oleh
“si kaya”, demi mengenyangkan ”beberapa” perut yang kelaparan.
Hal demikian juga nampak di Kabupaten
Jember, dimana keindahan lampu kota beserta indahnya alun-alun kota yang kian
lama masih ditambal sana sini. Namun,
kita lihat keadan seperti itu mampu menghipnotis
masyarakat yang ingin menikmati keindahannya, sambil bercengkerama, berolahraga,
yang lirik sana lirik sini, atau bahkan mereka yang berjuang memeras keringat
untuk menyambung hidup mereka. Tetapi, realita ditengah-tengeh itu semua ada
penghias yang menampilkan ciri pembeda yaitu sosok pengemis. Apakah pengemis
itu?, apakah mereka yang meminta-minta?, atau mereka yang iseng karena tidak ada
pekerjaan lain?, atau bahkan mereka yang berani malu untuk menjual harga diri
mereka demi beberapa keping uang recehan. Disini pengemis kami artikan sebagai jiwa atau mental peminta-minta, jadi
bukan karena keadaan sosial dalam kategori miskin, pengangguran, tak
berpendidikan. Jadi bukan karena keadan seperti inilah masyarakat Indonesia bermental
peminta-minta. Namun ketika yang ditekankan pada sisi jiwa atau mental dari
para pengemis, maka akan ditemukan segudang permasalahan yang harus dipecahkan.
Wajar saja jika seorang pengemis
mengatakan “mengemis itu bukan sesuatu hal
yang hina, mengemis adalah sesuatu hal
yang halal karena pekerjaan sekarang sulit didapatkan”. Tenyata mereka
sudah terhegemoni bahwa meminta-minta itu jalan pintas yang mudah untuk dilakukan
tanpa harus melakukan usaha yang maksimal selayaknya orang bekerja pada
umumnya; entah yang bekerja sebagai kuli, tukang becak, penjual pecel dan kaum
kecil lainnya. Padahal mereka tersebut mengeluarkan modal, baik material dan
imaterial agar mereka memperoleh sejumlah penghasilan. Bagi mereka mengemis
sudah menjadi pekerjaan tak beresiko, serta tak mengharuskan adanya modal
(materi). Namun, perkembangan keadaan mereka selolah-olah semakin menampakkan
dinamika kehidupan yang sifatnya mengarah pada pengembangan daya kreatifitas
manusia. Sekarang kita dapat membagi kategori pengemis menjadi dua yaitu; pengemis
konvensional
(mereka yang meminta-minta dengan cara biasa), dan pengemis profesional
(mereka yang meminta-minta dengan setumpuk bendelan kertas dalam bentuk serangkaian kata-kata halus, lembut, serta
data-data yang merayu, tapi pada intinya mereka hanya menginginkan beberapa
lembaran rupiah).
Ternyata daya kreatifitas masyarakat
telah bergeser menjadi kreatifitas yang melemahkan kekuatan dalam
memperjuangkan hidup. Berbeda halnya dengan “Bangsa kita tidak akan merdeka
apabila bangsa kita sewaktu itu sebagai Bangsa peminta-minta”. Ingat dalam
merebut kemerdekaan, rakyat bangsa ini melewati perjuangan yang sangat keras sampai
titik darah penghabisan dan direlakannya
nyawa demi kemerdekaan. Mengapa, setelah bangsa ini merdeka, sebagian rakyatnya malah menjadi bermentalkan peminta-minta.
Apakah kita seterusnya akan menjadi
masyarakat yang peminta-minta hanya untuk mempertahankan hidup, sedangkan para
anak bangsa sewaktu merebut kemerdekaan rela mengorbankan nyawa mereka,
alangkah mundurnya mental masyarakat Negri ini, untuk mempertahankan hidupnya
saja mereka rela untuk menjual harga diri.Hanya ada dua pilihan tetap menjadi
peminta-minta atau mengubah jiwa serta mentalitas kita menjadi seseorang yang berdikari.
“Tetap menjadi peminta-minta adalah proses
penghapusan jati diri bangsa, tetap
berdikari dalam mempertahankan hidup adalah suatu keharusan.”
Biro Litbang
KS
GmnI Jember