Kamis, 18 Agustus 2011

NASIONALISME,ISLAMISME DAN MARXISME


  Sebagai Aria Bima putra,yang lahirnya dalam zaman perjuangan,maka INDONESIA-MUDA inilah melihatnya cahaya hari pertama-tama dalam zaman yang rakyat-rakyat Asia,lagi berada dalam perasaan tak senang dengan nasibnya.Tak senang dengan nasib ekonominya,tak senang dengan nasib politiknya,tak senang denagan nasib yang lainnya. Zaman”senang dengan apadanya”sudahlah lalu.Zaman baru:zaman muda,sudahlah datang sebagai fajar yang terang cuaca.
Zaman teori kaum kuno,yang mengatakan bahwa,”siapa yang ada dibawah,harus terima senang,yang ia anggap cukup harga duduk dalam perbendaharaan riwayat,yang barang kemas-kemasanya berguna untuk memelihara siapa saja yang lagi berdiri dalam hidup”,kini sudahlah tak mendapat penganggapan lagi oleh rakyat-rakyat Asia itu.Pun makin lama makin tipislah kercayaan rakyat-rakyat itu,bahwa rakyat-rakyat yang mempertuankanya itu,adalah sebagai”voogd”yang kelak kemudian hari akan”ontvoogden” mereka;makin lama makin tipislah kepercayaannya,bahwa rakyat-rakyat yang mempertuankannya itu sebagai “saudara tua”yang dengan kemauan sendiri akan melepaskan mereka,bilamana mereka “sudah dewasa”,”akil balik”,atau”masak”.
Sebab tipisnya kepercayaan itu adalah bersendi pengetahuan,bersendi keyakinan,bahwa yang menyebabkan kolonialis itu bukanlah keinginan pada kemashuran,bukan keinginan melihat dunia asing,bukan keinginan merdeka,dan bukan pula oleh karena negeri rakyat yang menjalankan kolonisasi itu ada terlampau sesak oleh banyaknya penduduk,segai yang telah diajarkan Gustav Klemm,akan tetapi aslnya kolonisasi ialah teristimewa soal rezeki.
“Yang pertama-tama menyebabkan kolonisasi ialah hampir selamanya kekurangan bekal hidup dalam tanah airnya sendiri”,begitulah Dietrich Shafer berkata.kekurangan rezeki,itulah yang menjadi penyebab rakyat-rakyat Eropa mencari rezeki dinegeri lain!itulah pula yang menjadi sebab  rakyat-rakyat itu menjajah negeri-negeri,dimana mereka bisa mendapat rezeki itu.itulah pula yang membikin”ontoogding”-nya negeri-negeri jajahan negeri-negeri yang menjajahnya itu,sebagai suatu barang yang sukar dipertajajainja.orang tak akan gampang-gampang melepaskan bakul nasinya,jika pelepasan bakulnya mendatangkan matinya!.............
Begitulah,bertahun-tahun,bewidu-windu,rakyat-rakyat Eropa itu menuankan negeri-negeri Asia.Teristimewa Eropa-Baratlah yang bukan main tambah kekayaannya.
Begitulah tragisnya riwayat –riwayat negeri-negeri jajahan!Dan keinsafan akan tragis inilah yang menyadarkan rakyat-rakyat jajahan itu;sebab,walaupun lahirnya sudah kalah dan takluk,maka Spirit of Asia masilah kekal.Roh Asia masih hidup sebagai api yang tiada padamnya!Keinsafan akan tragis inilah pula yang sekarang menjadi nyawa pergerakan rakyat Indonesia-kita,yang walaupun dalam maksutnya sama,ada mempunyai tiga sifat:NASIONALIS,ISLAMISTIS dan MARXISTIS-lah adnaya.
Mempelajari,mencari hubungan antara ketiga sifat itu,membuktikan,bahwa tiga haluan ini dalam suatu negeri jajahan tak guna bersrteru satu sama lain,membuktikan pula,bahwa ketiga gelombang ini bisa bekerja sama menjadi satu gelombang yang maha besar dan maha kuat,satu ombak-topan yang tak dapat ditahan terjangannya,itulah kewajiban yang kita semua harus memikulnya.
Akan hasil atau tidaknya kita menjalankan kewajiban yang seberat dan semulia itu,bukanlah kita yang menentukan,Akan tetapi,kita tisak boleh putus-putus berdaya-upaya,tidak boleh habis-habis ikhtiar menjalankan kewajiban itu!Sebab kita yakin,bahwa persatuanlah yang kelak kemudian hari membawa kita kearah terkabulnya impian kita;Indonesia Merdeka!
Entah bagaimana tercapainya persatuan itu;entah pula bagaimana rupanya persatuan itu;akan tetapi tetaplah,bahwa kapal yang membawa kita ke Indonesia Merdeka itu,ialah kapal persatuan adanay!Mahatma,jurumudi yang akan membuat dan mengemudikan Kapal persatuan itu kini barangkali belum ada,akan tetapi yakinlah kita pula,bahwa kelak kemudian hari pastilah datang saatnya,yang sang Matma itu berdiri ditengah kita!...........
Itulah sebabnya kita dengan besar hati mempelajari dan ikut meratakan jalannya yang nenuju persatuan itu.Itulah maksudnya tulisan yang pendek ini.
Nasinalisme,Islamisme,Marxisme!
Inilah azas-azas yang dipeluk oleh pergerakan-pergerakan rakyat diseluruh Asia,Inilah faham-faham yang menjadi rohnya pergerakan-pergerakan di Asia itu.Rohnya pula pergerakan-pergerakan di Indonesia-kita ini.
Partai Boedi Oetomo”marhum”National Indische Partij yang kini masih”hidup”,partai sarekat Islam,Perserikatan minahasa,Partai Komunis Indonesia dan masih banyak partai-partai lainnya......itu masing-masing memiliki roh nasionalisme,roh islamidme,roh marxisme adanya.Dapatkah roh-roh ini didalam politik jajahan bekerja bersama-sam menjadi roh yang Besar,roh persatuan?Roh persatuan,yang akan membawa kita ke-lapangan ke-Besaran?
Dapatkah dalam tanah jajahan pergerakan Nasionalisme itu dirapkan dengan pergerakan Islamisme yang pada hakekatnya tiada bangsa,dengan pergerakan marxisme yang bersifat perjuangan Internasional?
Dapatkah Islamisme itu,ialah sesuatu agama,dalam polotik jajahan bekerja bersama-sama dengan nasionalisme yang memenyingkan bangsa,dengan materialistisnya Marxisme yang mengajarkan perbedaan?
Akan hasilkah usaha kita merapatkan Boedi Oetomo yang begitu sabar halus(gematigd),dengan partai komunis Indonesia yang begitu keras sepaknya,begitu radikal-millitant terjanganya?Boedi Oetomo yang begitu Evolusioner dan Partai Komunis Indonesia,yang walaupun kecil sekali,oleh musuh-musuhnya begitu didesak dan dirintangi,oleh sebab rupa-rupanya musuh-musuh itu yakin akan peringatan Al Carhill,bahwa”yang mendatangkan pemberontakan itu biasanya itu bagian yang terkecil,dan bagian yang terkecil sekali”?
Nasionalisme!Kebangsaaan!
Dalam tahun 1882 Ernest Renan telah membuka pendapatnya tentang faham “bangsa” itu.”Bangsa”itu menurut pujangga ini ada suatu nyawa,sutu azas akal,yang terdiri dari dua hal;pertama-tama rakyat itu dulunya harus bersama-sama menjalani satu riwayat;kedua,rakyat itu sekarang harus mempunyai kemauan,keinginan hidup menjadi satu.Bukanya jenis(ras),bukanya bahasa,bukanya agama bukanya persamaan butuh,bukanya batas-batas negeri yang menjadikan “bangsa”itu.
Dari tempo-tempo belakangan,maka selainya penulis-penulis lainya,sebagai Kalr Kautsky dan Karl Radek,teristimewa Otto Bauner-lah yang mempelajari soal”Bangsa”itu.
“Bangsa itu adalah suatu persatuan perangai yang terdiri persatuan hal-ichwal yang telah telah dijalani oleh rakyat itu”,begitulah katanya.
Nasionalisme itu ialah suatu iktikad;suatu keinsafan rakyat,bahwa rakyat itu ada satu golongan satu”bangsa”itu.
Bagaimana juga bunyinya keteranga-keterangan yang telah diajarkan oleh pendekar-pendekar ilmu yang kita sebutkan diatas tadi,maka tetaplah,bahwa rasa nasionalitis itu menimbulkan suatu rasa percaya akan diri sendiri,rasa yang mana adalah perlu sekali untuk mempertahankan diri didalam perjuangan menempuh keadan-keadan yang mau mengalahkan kita.
Rasa percaya pada diri sendirilah inilah yang memberikan keteguhan hati pada kaum Boedi Oetomo dalam usahanya mencari jawa-Besar;rasa percaya akan diri sendiri inilah yang menimbulkan ketetapan hati pada kaum revolusioner-nasionalis dalam perjuangan mencari hindia-Besar atau Indonesia Merdeka adanya.
Apakah rasa nasionalisme,yang oleh kepertanyaan akan diri sendiri itu,begitu gampang menjadi kesombongan-bangsa, dan begitu gampang mendapat tingkatnya yang kedua,ialah kesombongan-ras,walaupun faham ras(jenis)ada setinggi langit bedanya dengan faham bangsa,oleh karena ras ada faham biologis,sedangkan nationaliteit itu suatu faham sosiologis (Ilmu pergaulan hidup),-apakah nasinalisme itu dalam perjungan-jajahan bisa bergandenagan dengan Islamisme yang pada hakekatnya tiada bangsa,dan lahirnya dipeluk oleh bermacam-macam bangsa dan bermacam-macam ras;-apakah nasionalisme itu dalam politik kolinial bisa rapat-diri dengan Marxisme yang Internasional,interrasial itu?
Dengan ketepatan kita menjawab:bisa!
Sebab,walaupun nasionalisme itu dalam hakekatnya mengecualikan segala pihak yang  ikut mempunyai”keinghinan hidup menjadi satu”dengan rakyat itu;Walaupun nasionalisme itu mengecilkan segala golongan yang tak merasa “satu golongan,satu bangsa” dengan rakyat iti;walaupun kebangsaan dalam azasnya menolak segala perangai yang terkjadinya tidak “dari persatuan hal-ichwal yang telah dijalani oleh rakyat itu”,-maka tak boleh kita lupa,bahwa manusia-manusia yang menjadiakan pergerakan Islamisme dan pergerakan Marxisme di Indonesia-kita ini,dengan manusia-manusia yang menjalankan pergerakan Nasionalisme itu semua mempunyai “keinginan hidup menjadi satu”;-bahwa meraka dengan kauam Nasionalis itu merasa”satu golongan,satu bangsa”;-bahwa segala pihak dari pergerakan kita ini,baik Nasionalis maupaun Islamis,maupun npula Marxis,bertu-ratus tahun lamanya ada”persatuan hal-ichwal”persatuan nasib,inialh yang menimbulakan rasa “segolonagan”itu.Betul  rasa-golongan ini masih membuka kesempatan untuk perselisihan satu sama lain;betul sampai kini,belum pernah ada persahabatan yang kokoh diantara fihak-fiahak pergerakan di Indonesia-kita ini,-akna tetapi bukanlah pula maksud tulisan ini membuktikan,bahwa perselisihan itu tidak bisa terjadi.Jikalau kita sekarang mau berselisih,amboi,tak sukarlah mendatangkan perselisihan itu sekarang pula!
Maksud tulisan ini ialah membuktikan,bahwa persahabatan bisa tercapai!
Hendaklah kaum Nasionalis yang mengecualiakan dan mengecilkan segala pergerakan yang tak terbatas pada Nasionalisme,menagambil teladan akan sabda karamachand Gandi:”Buat saya,maka cinta pada tanah air itu,masuklah dalam cinta segala manusia.Saya inin seorang patriot,oleh karena saya manusia dan bercara manusia.Saya mengecualikan siapapun juga”.Inilah rahasianya,yang Gandi cukup kekuatan  mempersatukan pihak Islam dengan pihak Hindu,pihak Parsi,pihak Jain, dan pihak Sikh yang jumlahnya lebih dari tiga ratus juta itu,lebih dari enam kali jumlah putera Indonesia,hampir hampir seperlima jumlah manusia yang ada di muka bumi ini!
Tidak ada halanganya Nasionalis itu dalam gerakan bekerja bersama-sama dengan kaum Islamis dan Marxis.Lihatlah kekalnya perhubungan antara Nasionalis Gandi dengan Pan-Islamis Maulana Mohammad Ali,dengan Pan-Islamis Syaukat Ali,yang waktu pergerakan non-coopeeration India sedamg menghaibat,hampir tiada pisahnya satu sama lainnya.Lihatlah gerakan Partai Nasional Kuomitang di Tiongkok,yang dengan ridho hati menerima paham-paham Marxisme:tak setuju dengan kemileteran,tak setuju pada Imperialisme,tak setuju pada kemodalan!
Bukanya kita mengharap,yang Nasionalis itu berubah paham jadi Islamis atau Marxis,bukanya maksud kita menjurus Marxis dan Islamis itu berbalik menjadi Nasionalis,akn tetapi im[ian kitaialah kerukunan ,persatuan antar tiga golongan itu.
Bahwa sesungguhnya,asal mau saja....tak kuranglah jalan kearah persatuan.Kemauan percaya akan ketulusan hati satu sama lain,keinsafan akn pepatah”rukun bikin sentausa” (itulah sebaik-baiknya jembatan kearah persatuan),cukup kuatnya untuk melangkahi segala perbedaan dan keseganan antara segala pihak-pihak dalam pergerakan kita ini.
Kita ulangi lagi:Tidak adalah halangannya Nasianalis itu dalam gerakanya,bekerja bersama-sama dengan Islam dan Marxisme.
Nasionalis yang sejati,yang cintanya pada tanah air itu bersendi pada pengetahuan atas susunam ekonomi dunia dan riwayat,dan bukan semata-mata timbuh dari kesombongan bangsa belakang,-nasionalis yang bukan cauvinis,tak boleh tidak,haruslah menolak segala paham pengecualian yang sempit-budi itu.Nasionalis yang sejati,yang nasionalismenya itu bukan semata-mata suatu copy atau tiruan dari nasionalis Barat,akn tetapi timbul dari rasa cinta akan manusia dan kemanusiaan,-nasionalis yang menerima rasa-nasionalismenya itu sebagai suatu wahyu dan melaksanakan rasa itu sebagai suatu bakti,adalah terhindar dari segala paham kekecilan dan kesempitan.Baginya,maka rasa cinta bangsa itu adalah lebar dan luas,dengan memberi tempat pada lain-lain sesuatu,sebagai lebar dan luasnya udara yang memberi tempat pada segenap sesuatu yang perlu untuk hidupnya segala hal yang hidup.
Wahai,apakah sebabnya kecintaan-bangsa dari banyak nasiponalis Indonesia lalu menjadi kebencian,dikalau dihadapkan pada orang-orang Indonesia yang berkeyakinan Islamistis?Apakah sebabnya kecintaan itu lalu berbaik menjadi permusuhan,jikalau dihadapkan pada orang-oarang Indonesia yang bergerak Marxistis?Tiadakah tempat dalam sanubarinya untiuk nasionalismenya Gopala Khirisna Gokhate,Matatma Gandi atau Chita Ranjam Das?
Janganlah hendak akum kita sampai hati memeluk jingo-natoinalism,sebagai sebagai jingo-nationalismenya Arya-samaj di india dan pemecah persatuan Hindu-Muslim;sebab jingo-nationalism yang semacam itu “akhirnya pasti binasah”,oleh karena “nasionalime hanyalah dapat mencapai apa yang dimaksudnya,bilamana bersendi atas azas-azas yang lebih suci”.
Bahwasanya,hanya nasionalisme-ke-Timur-an yang sejatilah yang pantas dipeluk oleh nasionalis-Timur yang sejati.Nasionalisme-Eropa,ialah suatu nasionalisme yang bersifat serang menyerang,suatu nasionalisme yang mengejar kepentingan diri sendiri,suatu nasionalisme perdagangan yang utung atau rugi,-nasionalisme yang semacam itu akhirnya pastilah,pastilah bianasah.
Adakah keberatan kaum nasionalis yang sejati,buat bekerja bersama-sama dengan kaum Islam,oleh karena Islam itu melebihi kebangsaan dan melebihi batas-negeri ialah super nasional super-teritorial?Adakah Internationaliteit Islam suatu rintangan buat gerakan nasionalisme,buat gerakan kebangsaan?
Banayak nasionalis-nasionalis diantara kita yang sama lupa bahwa pergerakan-nasionalisme dan Islamisme di Indonesia ini-ya,diseluruh Asia-ada sama aslnya,sebagai yang telah kita uraikan diawal tulisan ini:dua-duanya berasal nafsu melawan”Barat”,atau lebih tegas,melawan kapitalisme dan imperialisme Barat,sehingga sebenarnya bukan melawan,melainkan kawanyalah adanya.Betapa lebih luhurnyalah sikap nasionalis Prof.T.L Vaswani,seorang yang bukan Islam,yang menulis:”Jikalau Islam menderita sakit,maka Roh kemerdekaan Timur tentulah sakit juga;sebab makin sangatnya negeri-negeri Muslim kehilangan kemerdekaannya,makin sagat pula imperialisme Eropa mencekek Eropa Asia.Tetapi,saya pecaya pada Asia-sediakala;saya percaya bahwa Rohnya masih akan menang.Islam adalah internasional, dan jikalau Islam merdeka ,maka nasionalismenya kita itu adalah diperkuat oleh segenap kekuatanya iktikad internasional itu”.
Dan bukan itu saatnya.Banyak nasinalis-nasionalis kita yang sama lupa,bahwa orang Islam,dimanapun juga ia adanya,diseluruh ”Darul-Islam”,menurut agamanya,wajib bekerja untuk keselamatan orang yang ditempatinya.Nasionalis-nasionalis itu lupa,bahwa orang Islam yang sungguh-sungguh menjalankan ke-Islamannya,baik orang Arab maupun orang India,baik orang mesir maupun orang manapun juga,jikalau berdiam di Indonesia,wajib pula bekerja untuk keselamatan Indonesia itu.”Dimana-mana orang Islam bertempat,bagaimanapun juga jauhnya dari negeri yang baru itu ia masih menjadi satu bagian dari pada rakyat disitulah ia haruslah ia harus mencintai dan bekrja untuk keprluan negeri itu dan rakyatnya”.
Inilah nasionalisme Islam!Sempit-budi dan sempit-pikiranlah nasionalis yang memusuhi suatu azas,yang,walaupun internasional dan interrasial,mewajibkan pada segenap pemeluknya yang ada di Indonesia,bangsa apa merkapun juga,mencintai dan bekerja untuk keperluan Indonesia dan rakyat juga adanya!
Adakah pula keberatan untuk kaum Nasionalis sejati,bekerja bersama-sama dengan kaum Marxisme itu Internasional juga?
Nasionalis yang segan berdekatan dan bekerja bersama-sama dengan kaum Marxis,-Nasionalis yang semacam itu menunjukkan ketiadaan yang sangat,atas pengetahuan berputarnya roda-politik dunia dan riwayat.Ia lupa,bahwa asal perferakan Marxis di Indonesia atau Asia itu,juga merupakan tempat asal pergerakan mereka.Ia lupa,bahwa arah pergerakanya sendiri itu acap kali sesuai dengan arah pergerakan bangsanya yang Marxitis tahadi.Ia lupa,bahwa memusuhi bangsanya yang Marxitis itu,samalah artinya dengan menolak kawan-sejalan dan menambah adanya musuh.Ia lupa dan tak mengerti akn arati sikapnya saudara-saudarnya dilain-lain negeri Asia,umpamanya almarhum Dr.Sun Yat Sen,panglima Nasional yang besar itu,yang dengan segala kesenagan hati bekerja bersama-sama dengan kaum Marxis walaupun beliau itu yakin,bahwa peraturan Marxis pada saat itu belum diadakan dinegeri Tiongkok,oleh karena dinegeri Tionkok itu tidak ada syarat-syaratnya yang cukup-masak untuk mengadakan perturan Marxisme itu.Perlukah kita membuktikan lebih lanjut,bahwa nasionalisme itu,baik sebagai suatu azas yang timbulnya dari rasa ingin hidup menajdi satu;baik sebagai suatu keinsafan rakyat,bahwa rakyat itu ada satu golongan,satu bangsa;maupun sebagai suatu persatuan perangai yang terjadi dari persatuan hal-ichwal yang telah dijalani oleh rakyat itu,-perlukah kita membuktikan lebih lanjut bahwa nasionalisme itu,asal saja yang memeluknya mau,bisa dirapatkan dengan Nasionalis dan Islamisme?Pelukah kita lebih lanjut mengambil contoh-contoh pendekar-pendekar Nasionalis dilain-lain negeri,yang sama bergandengan tangan dengan kaum-kaum Marxis?
Kita rasa tidak!Sebab kita percaya bahwa tulisan ini,walaupun pendek dan jauh kurang sempurna,sudahlah cukup cukup jelas untuk nasionalis-nasionalis kita yang mau bersatu.kita percaya,bahwa semua nasionalis-nasionalis muda adalah berdiri disamping kita.Kita percya pula,bahwa banyaklah nasionalis-nasionalis kolot yang mau akan persatuan;hanyalah kebimbangan mereka akan kekalnya persatuan itulah yang mengecilakn hatinya untuk meng ikhtiarkan persatuan itu.Pada merekalah terutama tulisan ini kita adakan.
Kta tidak menuliskan rencana ini untuk Nasionalis-nasionalis yang tidak mau bersatu.Nasionalis-nasionalis yang demikian itu kita serahkan pada pengadilan riwayat,kita serahkan pada keputusanya mahkamah histori!
Islamisme,Ke-islaman!
Sebagai fajar sehabis malam gelap-gulita,sebagai penutup abad-abad kegelapan,maka dalam abad kesembilan belas berkilau-kilaulah didalam dunia ke-Islaman sinarnya dua pendekar,yang namanya tak akn tertulis dalam buku riwayat Muslim;Sheikh Muhammad Abdouh,rektor sekolah tinggi Azhar,dan Seyid Djamaluddin El Afgani-dua panglima Pan-Isalame yang telah membangun dan menjunjung rakyat-rakyat Islam diseluruh benua Asia dari pada kegelapan dan kemunduran.Walaupun dalam sikapnya dua pahlawan dalam sikapya ad perbedaan sedikit satu sama lain-Seyid Djamaluddin El Afgani ada lebih radikal dari Sheikh Muhammad Abdoud-maka maka merkalah yang membangun lagi kenyataan-kenyataan Islam tentang politik,terutama Seyid Djamaluddin,yang pertama-tama yang membangun rasa perlawanan dihati sanubari rakyat-rakyat Muslim terhadap pada bahaya imperialisme Barat;merekalah terutama Seyid Djamaluddin pula,yang mula-mula mengkotbahkan suatu barisan rakyat Islam yang kokoh,guna melawan bahaya imperialisme Barat itu.
Sampai pada wafatnya dalam tahun 1896,Seyid Djamaluddin El Afgani,harimau Pan-Islamisme yang gagah berani itu, bekerja dengan tiada berhentinya,menanam benih ke-Islaman dimana-mana,menanam rasa perlawanan terhadap pada ketamaan Barat,menanam keyakinan,bahwa untuk perlawanan itu kaum Isalam harus”mengambil tekniknya kemajuan Barat,dan mempelajari rahasia-rahasianya kekuasaan Barat”.
Benih-benih itu tertanam! Sebagai ombak makin lama makin hebat, sebagai gelombang yang makin lama makin tinggi dan besar, maka diseluruh dunia muslim tentara-tentara Pan-Islamisme sama bangun dan bergerak dari Turki dan Mesir, sampai ke Marocco dan Kongo, ke Persia, Afghganistan. . . membanjir ke India, terus ke Indonesia. . . gelombang Pan-Islamisme melimpah kemana-mana!
Begitulah rakyat indonesia kita ini, insyaf tragis nasibnya, sebagian sama bernaung dibawah bendera hijau, dengan muka kearah Qiblat, mulut menjadi  La haula wala kuwata illa billah dan Billahi fisabilil ilahi!
Mula-mula masih perlahan-lahan, dan belum begitu terng beneranglah jalan yang harus di injaknya,maka makin lama makin nyata dan tentulah arah-arah yang di ambilnya,makin lama makin banyaklah hubunganya dengan pergerakan-pergerakan Islam dinegeri-negeri lain;makin tternglah ia menujukkan peranginya yang internasional;makin mendalamlah pula pendirianya atas hukum-hukum agama.Karenanya,tak heranlah kita,kalau profesor Amerika,Ralston Hayden,menulis,banwa pergerakan Sarekat Islam ini “akan berpengaruh besar atas kejadianya polotik dikelak kemudian hari,bukan saja di Indonesia,tetapi diseluruh dunia Timur jua adanya”!Raslton Hyden dengan ini menujukkan keyakinan akn perangai internasional dari pergerakan  Sarekat Islam itu;ia menunjukkan pula suatu penglihatan yang jernih didalam kejadian-kejadian yang belum tejadi pada saat ia menulis itu.Bukankah tujuanya telah terjadi?Perang Islam di Indonesia telah ikut menjadi jawabanya Mu’tamat-ul Alamil Islami di Mekah;pergerakan islam di Indonesia telah menceburka diri dalam laut perjuangan Islam Asia!
Makin mendalamnya pendirian atas keagamaan pergerakn Islam inilah yang menyebabkan keseganan kaum Marxis untuk merapatkan diri denagan pergferaka Islam itu;dan makin kemukanya sifat internasional itulah oeh kaum Nasionalis “kolot” maupun “muda”baik evolusioner maupun revolusioner,sama berkeyakina bahwa agama itu tidak boleh dibawa-bawa kedsalam politik adanya.Sebaliknya,kaum Islam yang “fanatik”,sama menghina politik kebangsaan dari kaum Nasionalis ,menghina politik kerezekian dari kaum Marxis;mereka memandang politik kebangsaan itu sebagai sempit, dan mengataka politik kerezekian itu sebagai kasar.Pendek kata,sudah “sempurna”-lah perselisiahan paham!
Nasionalis-nasionalis dan Marxis-marxis tadi sama menuduh pada agama Islam,yang negeri-negeri Islam itu kini begitu rusak keadaanya.Begitu rendah derajatnya hampir semuanya dibawah perintah negeri-negeri Barat.
Mereka kusut-paham!Bukan Islam,melainkan yang memeluknya yang salah!Sebab dipandang dari pendirian nasional dan sosialis,maka tinggi derajtnya dunia Islam pada mulanya sukarlah dicari bandinganya.Rusaknya kebesaran nasionalrusaknya sosilisme Islam bukan disebabkan oleh islam sendirri,rusaknya Islam itu ialah oleh karena rusaknya budi pekerti orang-orang yang menjalankanya.Sesudah Amir Muawiah mengutamakan azas duniawian untuk aturan kholifah,sesudahya “kholifah-kholifah itu menjadi raja”,maka padamlah tabiat Islam yang sebenarnya.”Amir Muawiah-lah yang harus memikul pertanggung jawaban atas rusaknya tabiat Islam yang nyata bersifat sosialitis dengan sebenar-benarnya “,begitulah Oemar Said Tjokroaminoto berkata.Dan,dan dipandang dari perndirian nasional,tidaklah Islam tekah menunjukkan contoh-contoh kebesaran yang mencengangkan bagi siapa yang mempelajari riwayat dunia,mencengangkan bagi siapa yang mempelajari riwayat kultur?
Islam telah rusak,oleh karena yhang menjalankanya rusak budi pekertinya.Negeri-negrei Barat telah merampas negeri-negeri Islam oleh karena pada perampasan itu kaum Islam kurang tebal tauhidnya,dan oleh karena Wet evolusi dan susunan pergaulan hidup bersama,sudah satu “historische Notwendigkeit”,satu keharusan riwayat, yang negeri-negeri Barat itu menjalankan perampasan tadi.Tebalnya tauhid itu yang memberi keteguhan pada bangsa Riff menentang imperialis Spanyol dan Perancis yang bermeriam dan bersejata!
Islam yang sejati tidaklah mengandung azas anti nasionalis;Islam yang sejati tidaklah bertabiat anti sosialias.selama kaum Ioslamis memusuhi paham-paham Nasionalis yang luas budi dan Marxisme yang benar,selama itu kaum Islamis tidak nerdiri diatas Shirotol Mustaqim;selama itu tidaklah ia bisa mengangkat Isalam dari kenistaan dan kerusakan tadi!Kita sama sekali tidak mengatakan yang Islam itu setuju pada Materialisme atau perbedaan;dama dekali tidak melupakan hang Islam itu melebihi bangsa,super nasional.Kita hanya mengatakan,bahwa Islam yang sejati itu mengandung tabiat-tabiat sosialis dan menetapkan kewajiba-kewajibanya yang menjadi kewajiban-kewajiban nasional pula!
Bukankah,sebagai yang sudah kita terngkan,Islam yang sejati mewajibkan pada pemelukn mewajibkan dan bekerja untuk negeri yang ia diami,mencintai dan bekerja untuk rakyat diantara mana ia hidup,selama negeri dan rakyat itu masuk Darul-Islam?Seyid Djamaluddin El Afgani dimana-mana telah mengkhotbahkan nasionalis dan patriotisme,yang oleh musuhnya saja disebut “fanatisme”dimana-mana pendekar Pan-Islamisme ini mengkhotbahkan hormat akan diri sendiri,mengkhotbahkan rasa luhur diri,menghkhotbahkan rasa kehormatan bangsa,yang oleh musuhnya lantas saja dinamakan”chauvinisme” adanya.Dimana-mana,terutama di Mesir,maka Seyid Djamaluddin El Afgani menanam benih nasionalisme itu;Seyid Djamluddin-lah yang menjadi “bapak” nasionalisme Mesir didalam segenap bagian-bagianya”.
Dan bukan Seyid Djamaluddin saja yang menjadi penanam benih nasionalisme dan cinta banggsa.Arabi pasha,Mustafa kamil,Mohammad farid bey,Ali pasha,Ahmed bey agayeff,Mohammad ali dan Shaukat ali.....semuanya adalah panglima Islam yang mengajarkan cinta bangsa,semumya adalah propagandis nasionalisme dimasing-masing negerinya!Hendaklah pemimpin-pemimpin ini menjadi teladan bagi Islamis-islamis kita yang “fanatik” dan sempit budi, dan yang tidak mau mengetahui akan wajibnya merapatkan diri dengan gerakan bangsanya yang nasionalistis.Hendaklah Islam-islam yang demikian itu ingat,bahwa pergerakan yang anti kafir itu,p a s t i l a h meninbulkan rasa nasionalisme,oleh karena golongan-golongan yang disebut kafir itu adalah kebanyakan dari lain bangsa,bukan bangsa Indonesia!Islamisme yang memusuhi pergerakan nasional yang layak bukanlah Islam yang sejati;Islamisme yang demikian itu ialah Islamisme yang “kolot”,Islamisme yang tak mengerti aliran zaman!
Demikian pula kita yakin,bahwa kaum Isalamis itu bisa kita rapatkan dengan kaum Marxis,walaupun pada hakekatnya dua pihak ini berbeda azas yang lebar sekali.Pedihlah hati kita,ingat akan gelap gulitanya udara Indonesia,tatkala beberapa tahun yang lalu kita menjadi saksi atas suatu perkelahian saudara;menjadi saksi pecahnya permusuhan antara kaum Marxis dan Islamis;menjadi saksi bagaimana tentara pergerakan kita telah terbelah jadi dua bagian yang memerangi satu sama lainnya.Pertarungan inilah isinya halaman-halaman yang paling suram dari buku riwayat kita!Pertarungan saudara inilah yang membuang sia-sia segala kekuatan pergerakan kita,yang mestinya makin lama makin kuat itu;pertarungan inilah yang mengundurkan pergerakan kita dengan puluhan tahun adanya!
Aduhai! Alangkah kuatnya pergerakan kita seandainya pertarungan saudara itu tidak terjadi.Niscaya kita tidak rusak susunan sebagai sekarang ini;niscaya pergerakan kita maju,walaupun rintangan yang bagaimana juga!
Kita yakin,bahwa tiadalah halangan yang penting bagi persahabatan Muslim-Marxis itu.Diatas sudah kita terangkan,bahwa Islamisme yang sejati itu ada mengandung tabiat-tabit yang sosialistis.Walaupun sosialistis itu belum tahu bermakna Marxitis,walaupun kita tahu bahwa sosialisme Isalam itu tidak bersamaan dengan azas Marxisme,oleh karena sosialisme Islam itu berazas spiritualisme,dan sosialismenya Marxis itu berazas Materialisme(perbedaan);walaupun begitu,maka untuk keperluan kita cukuplah agaknya kita membuktika bahwa Islam sejati itu sosialistislah adanya.
Kaum islam tak boleh lupa,bahwa pandangan marxisme tentang riwyat menurut azas perbedaan (Materialistische histories opvaitting) ini yang sering kali menjadi penunjuk jalan bagi mereka tentang soal-soal ekonomi dan politik dunia yang sukar dan sulit;mereka tak boleh pula lupa,bahwa caranya (metode) Historis Materialisme (Ilmu perbedaan hubungan dengan riwayat) menerangkan kejadian-kejadian yang telah terjadi dimuka bumi ini,adalah caranya menunjukkan kejadian-kejadian yang akan datang,adlah amat berguna bagi mereka!
Kaum Islamis tidak boleh lupa,bahwa kapitalisme,musuh marxisme itu,ialah musuh Islamisme pula!Sebab meerwaade sepanjang paham marxisme,dalam hakekatnya tidsk lsin dsri pada riba sepanjang pahan Islam.Meewaade,ialah teori:memakan hasil pekerjaan orang lain,tidak memberikan bagian keuntungan yang seharusnya menjadi bagian kaum buruh yang bekerja mengeluarkan untung itu,teori Meerwaade itu disusun oleh Karl Marx dan Friedrich Engels untuk menerangkan asal-aslanya kapitalisme terjadi.Meerwaade inilah yang menjadi nyawa segala peraturan yang bersifat kapitalis;dengan memerangi meerwaade inilah,maka kaum Marxisme memerangi kapitalisme sampai pada akar-akarnya!
Untuk Islam sejati,maka dengan lekas saja teranglah baginya,maka tak layaknya mereka paham Marxisme yang melawan peraturan meerwaade itu,sebab ia tak lupa,bahwa Islam yang sejati melarang keras akan perbuatan memakan riba dan memungut bunga.Ia mengerti, bahwa riba ini pada hakekatnya tidak lain dari pada meerwaadenya paham Marxis itu!
“janganlah maka riba berlipat ganda dan perhatikanlah kewajibanmu terhadap Allah,moga-moga kamu beruntung!”,begitulah yang tertulis dalam Al Qur’an,surat Al Imron,ayat 129!
Islam yang luas pemandanganya,Islamis yang mengerti kebutuhan-kebutuhan perlawanan kita,pastilah setuju akan persahabatan denagan kaum Marxis,oleh sebab ia insaf bahwa memakan riba dan memungut bunga,menurut agamanya adalah perbuatan yang terlarang,suatu perbuatan yang haram;ia insaf,bahwa inilah caranya Islam memerangi kapitalisme sampai pada akar dan benihnya,oleh karena,sebagai yang sudah kita terangkan dimuka,riba ini sama sama dengan meerwaade yang menjadi nyawa kapitalisme itu.ia insaf,bahwa sebagai Marxis,Islam pula,”dengan kepercayaan pada Allah,dengan pengakuanya atas Kerajaan Tuhan,adlah suatu protes terhadap kejahatan kapitalisme”.
Islamisme yang “fanatik” dan memerangi pergerakan Marxisme adalah Islamis yang tak kenal akan larangan- larangan agamanya sendiri. Islamis yang demikian itun tak mengetahui, bahwa, sebagai Marxisme, Islamisme yang sejati melarang penumpukan uang secara kapitalis, melarang penimbunan harta- benda untuk keperluan sendiri. Ia tak ingat akan ayat Al- Qur’an: “Tetapi kepada barang siapa menumpuk- numpuk emas dan perak dan membelanjakan dia tidak menurut jalannya Allah chabarknlah akan mendapat hukuman yang celaka!” Ia mengetahui bahwa sebagai Marxisme yang dimusuhi itu agama Islam dengan jalan yang demikian itu memerangi wujudnya kapitalisme dengan seterang-terangnya!
Dan masih banyaklah kewajiban-kewajiban ketentuan-ketentuan dalam agama Islam yang bersamaan dengan tujuan- tujuan dan maksud-maksud Marxisme itu! Sebab tidakkah pada hakekatnya paham kewajiban zakat dalam agama Islam itu, suatu kewajiban si Kaya membagikan rejekinya kepada si miskin. Pembagian- rejeki mana dikehendaki pula oleh Marxisme,--tentu saja dengan cara Marxisme sendiri? Tidakkah Islam bercocokan anasir-anasir “kemerdekaan persamaan, dan persaudaraan” dengan Marxisme yang banyak dimusuhi oleh kaum Islamis? Tidakkah Islam yang sejati telah membawa “ segenap perikemanusiaan diatas lapang “kemerdekaan persamaan, dan persaudaraan”? Tidakkah nabi-Islam telah mengajarkan persamaan itu dengan sabda: “Hai, aku ini hanyalah seorang manusia sebagai kamu;  sudahlah dilahirkan padaku, bahwa Tuhanmu ialah Tuhan yang satu?” Bukanlah persaudaraan ini diperintahkan pula oleh ayat 13 Surat Al-Hujarat, yang bunyinya: “ Hai manusia, sungguhlah kami telah menjadikan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan kami jadikan padamu suku-suku dan cabang- cabang keluarga, supaya kamu berkenal- kenalan satu sama lain?” Bukanlah persaudaraan ini “ tidak tinggal sebagai persaudaraan di dalam teori saja”, dan oleh orang- orang yang bukan Islam diaku pula adanya? Tidakkah sayang beberapa kaum Islamis memusuhi suatu pergerakan, yang anasir-anasirnya juga berbunyi  “kemerdekaan persamaan, dan persaudaraan”?
Hendaklah kaum Islam yang tak mau merapatkan diri dengan kaum Marxis sama ingat, bahwa pergerakanya itu, sebagai pergerakan Marxis, adalah suatu gaung atau kumandangnya jerit dan tangis rakyat Indonesia yang makin lama makin sempit kehidupannya, makin lama makin pahit rumah tangganya. Hendaknya kaum itu sama ingat, bahwa pergerakannya itu dengan pergerakan Marxis, banyaklah persesuaian cita-cita, banyaklah persamaan tuntutan- tuntutan. Hendaklah kaum itu mengambil teladan akan utusan Islam Afganistan, tatkala ia ditanyai oleh sutu surat kabar Marxis telah menerangkan, bahwa walaupunbeliau bukan seorang Marxis beliau menjadi “sahabat yang sesungguh-sungguhnya” dari kaum Marxis, oleh karena beliau adalah suatu musuh yang hebat dari kapitalisme Eropa di Asia!
Sayang, sayanglah jikalau pergerakan Islam di Indonesia- kita ini bermusuhan dengan pergerakan Marxis itu! Belum pernahlah di Indonesia- kita ini ada pergerakan, yang sesungguhnya pergerakan rakyat, sebagai pergerakan Islam dan pergerakan Marxis itu! Belum pernahlah di negeri- kita ini ada pergerakan yang begitu menggetar sampai kedalam urat-sungsumnya rakyat, sebagai pergerakan yang dia itu! Alangkah hebatnya jikalau dua pergerakan ini, dengan mana rakyat tidurdan dengan mana rakyat itu bangun, bersatu banjir yang sekuasa-kuasanya.
Bahagialah kaum pergerakan Islam yang insaf dan mau akan persatuan. Bahagialah mereka, oleh karena merekalah yang sesungguh- sungguhnya menjalankan perintah-perintah agamanya.
Kaum Islam yang tidak mau akan persatuan, dan yang mengira sikapnya yang demikian itulah sikap yang benar,--wahai, moga- mogalah mereka itu bisa mempertanggungkan sikapnya yang demikian itu dihadapan Tuhannya!
Marxisme!
Mendengar perkataan ini, maka tampak sebagai suatu bayangan-bayangan dipenglihatan kita gambarnya berduyun-duyun kaum yang mudlarat dari segala bangsa dan negeri, pucat muka dan kurus-badan, pakaian yang berkoyak-koyak; tampak pada angan-angan kita dirinya pembela dan kampiun si-mudlarat tadi, seorang ahli- fikit yang ketetapan hatinya dan keinsyafan akan kebiasaannya “mengingatkan kita pada pahlawan- pahlawan dari dongeng-dongeng kuno Jerman yang sakti dengan tiada terkalahkanya itu”, suatu manusia yang “geweldig”(hebat) yang dengan sesungguh-sungguhnya bernama “grootmeester” (maha guru)pergerakan kaum buruh, yakni:  Heinrich Karl Marx.
Dari muda sampai wafatnya,manusia yang hebat ini tidak berhenyi-hentinya membela dan memberi penerangan pada si miskin,bagaimana mereka itu sudah menjadi sengsara dan bagaimana mereka itu pasti akan mendapat kemenanagan;tidak kesal dan capeknya ia berusaha dan bekerja untuk pembelaan itu:duduk diatas kursi dimuka meja tulisnya,begitulah ia dalam tahun 1883 menghembuskan nafasnya yang penghabisan.
Seolah-olah mendenagarlah kita dimana-mana negeri suaranya mendengung sebagai guntur,tatkala ia dalam tahun 1847 menulis suratnya:”Kaum buruh dari semua negeri,kumpullah menjadi satu!” Dan sesungguhnya!Riwayat dunia belumlah penah menceritakan pendapat dari seorang manusia,yang begiru cepatnya masuk dalam keyakinan satu golongan pergaulan hidup,sebagai pendapatnyakampiunn kaum buruh ini.Dari puluhan menjadi ratusan ,dari ratusan menjadi ribuan,dari ribuan menjadi laksaan,ketian,jutaan....begitulah jumlah pengikutnya bertambah-tambah.Sebab,walaupun teori-teorinya ada sangat sukar dan berat untuk kaum yang pandai dan terang fikiranya,tetapi ” amatlah mudah dimengerti oleh kaum yang tertindas dan sengsara:kaum melarat fikiranya yang berkeluh kesah itu”
Berlainan dengan sosialis-sosialis lainya,yang mengira bahwa cita-cita mereka itu dapat tercapai dengan jalan persahabatan antara buruh dan majikan,berlainan dengan umpamanya:Ferdinand lasselle,yang teriakannya itu ada suatu teriakan perdamaian,maka Kark Marx,yang dalam tulisan-tulisannya tidak satu kali mempersoalkan kata asih atau kata cinta,membeberkan pula paham pertentangan golongan;paham kalessentrik,dan mengakjarkan pula,bahwa lepasnya kaum buruh dari nasibnya itu,ialah oleh perlawanan,zonder,damai terhadap pada kaum “borjuasi”,satu perlawanan yang tidak boleh tidak,mesti terjadi oleh karena peraturan yang kapitalis itu adanya.
Walauppun pembaca tentunya semuanya sudah sedikit-sedikit mengetahui apa yang telah diajarkan oleh Karl Marx itu,maka bergunalah pula ajaknya;-ia mengadakan suatu pelajaran gerakan fikiran yang berdasarkan pada perbedaan (Materialistische Dialectiek);-ia membentangkan teori,bahwa harganya barang-barang itu ditentukan oleh banyaknya “kerja” untuk membikin barang-barang itu,sehingga “kerja” ini ialah “wertbildende Substans”, dari barang-barang itu (arbeids waarde leer);ia membeberkan teori ,bahwa pekerjaan kaum buruh dalam pembikinan barang itu adalah lebih besar harganya dari pada yang ia terima sebagai upah (meerwaade);ia mengadakan pelajaran riwayat  yang berdasarkan perikebendaan,yang mengaajrkan,bahwa “bukan budi akal manusialah yang menentukan keadaanya,tetapi sebaliknya keadannya berhubung dengan pergaulan hiduplah yang menentukan budi akalnya;(Materialistchi Geschiedenisopvatting);ia mengadakan terori,bahwa oleh karena “Meerwaads” itu dijadiakn kapital pula,maka kapital itu makin lama makin besar (Kapital saccomulatie),sedsng kapital-kapital yang kecil sama mempersatukan diri menjadi modal yang besar(Kapital Sentrallisasie),dan bahwa,oleh karena persaingan,perusahaan-perusahaan yang kecilk sama mati terdesak oleh perusahaan-perusahaan yang besar,sehinga oleh desak-desakan ini akhirnya cuma tinggal beberapa perusahaan saja yang amat besarnya(Kapital Konsentratie) dan ia mendirikan teori,yang dalam aturan kemodalan ini nasibnya kaum buruh makin lama makin tak menyenangkan dan menimbulkan dendam hati tang makin lama makin sangat (Verelendungstheorie);teori-teori mana,berhubungan dengan kekurangan tempat,kita tidak bisa menerangkan lebih lanjut kepada pembaca-pembaca yang belum begitu mengetahuinya.
Meskipun musuhnya-musuhnya,di antara mana kaum anarkis,sama menyangkal jasa-jasanya Marx yang kita sebutkan diatas ini,meskipun lebih dulu,dalam tahun 1825,Adolphe Blanqui dengan cara histori materialistis sudah mengatakan,bahwa riwayat itu,”menetapkan kejadian-kejadianya” sedang ilmu ekonomi “menerangkan sebab apa kejadian-kejadian itu terjadi”,;meskipun teori meerwaade itu sudah lebih dulu dilahirkan oleh ahli-ahli fikir sebagai Sismondi,Thompson dan lain-lain;mesksipun pula teori konsentrasi modal atau arbeidwaardeleer itu ada bagian-bagiannya yang tak bisa mempertahankan diri tehadap kritik musuhnya yang tak jemu-jemu mencari-cari salahnya;meskipun begitu,maka tetaplah,bahwa stelsenya Karl Marx itu mempunyai pengertian yang tidak kecil dalam sifatnya umum,dan mempunyai pengertian penting dalam sifat bagian-bagiannya.Tetaplah pula,bahwa,walaupun teori-teori itu sudah lebih dulu dilahirkan oleh ahli fikir lain,dirinya Marxlah yang meski”bahasa”-nya itu unuk kaum”atasan” sangt berat dan sukarnya,dengan terang benerang menguraikan teori-teori itu bagi akum “tertidas dan sengsara yang melarat fikiranya” itu dengan pahlawan-pahlawanya,sehingga mengerti dengan terang benerang.Dengan gampang saja,sebagai suatu soal yang “sudah mustinya begitu”,mereka lalu mengerti teorinya atas meerwaade,lalu mengerti,bahwa simajikan itu lekas menajdi kaya oleh karena mereka tidak memberikan semua hasil-pekerjaanya padanya;mereka lau saja mengerti,bahwa keadaan dan susunan ekonomilah yang menetapkan keadaan manusia  tentang budi,akal,agama dan lain-lainya,bahwa manusia itu:er ist was er ist;mereka lantas saja mengerti,bahawa kapitalisme itu akhirnya pastilah binasah,pastilah lenayp diganti oleh peragulan hidup yang lebih adil,bahwa kaum”borjuasi” itu “teristimewa mengadakan tukang-tukang penggali liang kuburnya”.
Begitulah teori-teori yang dalam dan berat itu masuk tulang sumsumnya kaum buruh di Eropa,masuk pula tulang sumsumnya kaum buruh di Amerika.Dan,”tidaklah sebagai suatu hal yang ajaib,bahwa kepercayaan ini telah masuk dalam berjuta-juta hati dan tiada suatu kekuasaan satupun dimuka bumi ini yang dapat mencabut lagi dari padanya”.Sebagai terbarab benih yang ditiup angi kemana-mana tempat,dan dan tumbuh pula dimana-mana ia jatuh,maka benih Marxisme ini berkar dan bersulur;dimana-mana pula,maka kaum “borjuasi” sama menciptakan diri dan berusaha membasmi tumbuh-tumbuhan”bahaya proletar” yang makin lam amkin subur itu.Benih yang ditebar-tebarkan di Eropa itu,sebagian telah ditebarkan oleh topan-zaman kearah khaatulistiwa,terus ke Timur, sehinggan jatuh dan tumbuh dianta bukit-bukit dan gunung-gunung yang tersebar diegenap kepulauan “sabuk-zamrud”,yang bernama Indonesia.Dengungnya nyanyian “Internasinale”,yang dari sehari-kesari menggetarkan udara Barat,sampai kuatlah hebatnay bergaung dan berkumandang diudara Timur.......
Pergerakan Marxisitis di Indonesia ini,ingkarlah sifatnya kepada pergerakan yang berhaluan Nasionalistis,ingkarlah kepada pergerakan yang berazas ke-Isalm-an.Malah beberapa tahun yang lalu,keingkaran ini sudah menjadi suatu pertengkaran perselisishan paham dan pertengkaran sikap,menjadi suatu pertengkaran saudara,yang,sebagai yang sudah kita terangkan dimuka,menyuramkan dan menggelaplah hati siapa yang mengutamakan perdamaian,menyuramkan dan meggelapkan hati siapa yang mengerti,bahwa dalam pertengkaran yang demikaian itulah letaknya kekalahan kita.Kuburkanlah Nasionalisme,kuburkanlah polotik cinta tanah air,dan lenyaplah polotik keagamaan,begitulah seolah-olah lagu perjuangan yang kita dengar.Sebab katanya:Bukan Marx dan Engels telah mengatakan,bahwa”kaum buruh itu tak mempunayai tanah air”?Katanya:Bukankah dalam,”Manifes Komunis” ad tulisan,bahwa “komunisme itu melepskan agama”?Katanya:Bukankah Bebel telah mengatakan,bahwa “bukanlah Allah membikin manusia,Tapi manusialah yang membikin Tuahan”?
Dan sebaliknya!Pihak Nasiaonalis dan Islamis tak berhenti-henti pula mencaci maki pihak Marxis,mencaci maki pergerakan yang “bersekutuan” dengan orang asing itu,dan mencaci maki pergerakan yang “Mungkir” akan Tuhan.Mencaci pergerakan yang mengambil teladan akan negeri Rusia yang menurut pendaptnya:azasnya sudah palit dan terbuktitak dapat melaksanakan cita-citanya yang memang suatu utopis,bahkan mendatangkan “kalang kabutnya negeri” dan bahaya kelaparan dan hawar penyakit yang mengorbankan  nyawa kurang lebih limabelas juta manusia,suatu jumlah yang lebih besar dari pada jumlahnya sekalian manusia yang binasah dalam perang besar yang akhir itu.
Demikianlah denagn bertambahnya tuduh menuduh ats dirinya masing-masing pemimpin,duduknya perselisahan beberapa tahun yang lalu:satu sama lain sudah salah mengerti dan saling tidak mengindahkan.
Sebab taktik Marxisme yang baru,tidaklah menolak pekerjaan bersama-sama dengan nasionalis dan Islamis di Asia.Taktik Marxisme yang baru,malahan menyokong pergerakan-pergerkan Nasionalis dan Islamis yang sungguh-sungguh.Marxis yang masih saja bermusuhan dengan pergerakan-pergerkan Nasionalis dan Islamis yang keras di Asia,Marxis yang demikain itu tak mengikuti aliran zaman,dan tak mengerti akan taktik Marxisme sang sudah berubah.
Sebaliknya Nasionalis dan Isalmis yang menunjuk-nunjuk akan “failitnya” Marxisme itu,mereka menunjukkan tak mengertinya aats faham Marxisme,dan tak mengertinya ats sebab terpelesetnya “prakteknya” tadi.Sebab tidaklah Marxisme sendiri mengajarkan,bahwa sosialismenya itu hanya bisa tercapai dengan sungguh-sungguh bilamana negeri-nengeri yang besar-besar itu semuanya di-“sosialis”-kan?
Bukankah “kejadian” sekarang ini jauh berlainan dari pada “voorwaarde”(syarat) untuk terkabulya maksud marxisme itu?
Untuk adilnya kita punya hukuman terhadap pada “praktiknya” paham marxisme itu,maka haruslah kita ingat,bahwa “faillite” dan “kalang kabut”-nya negeri Rusia adalah dipercepat pula oleh penutupan  atau blokade oleh semua negeri-negeri musuhya;dipercepat pula oleh hantaman dan serangan pada empat belas tempat oleh musuh-musuhnya sebagai Inggris,Perancis, dan jendral-jendral Kolchak,Denikin,Yudenitch dan Wrangel;dipercepatnya pula oleh anti propaganda yang dilakukan oleh hampir semua surat kabar diseluruh dunia.18
Dalam pemandangan kita, maka musuh-musuhnya itu pula harus ikut bertanggung jawab atas matinya 15 juta orang yang sakit dan kelaparan itu, dimana mereka menyokong penyerangan Koltchak, Deni kin, yudenitch dan wramgel itu dengan harta dan benda; dimana umpanya negri Inggris, yang membuang-buang berjuta-juta rupiah untuk menyokong penyerangan2 atas diri sahabatnya yang dulu itu, telah “mengotorkan namiNGGRIS DIDUNIA dengan menolak memberi tiap-tiap bantuan pada kerja – penolongan” si sakit dan silapar itu; dimana di Amerika di Rimania, dan di Hongaria pada saat terjadiny BENCANA ITU PULA,karena terlalu banyaknya gandum, orang sudah memakai gandum itu untuk kayu bakar, sedang di negri Rusia orang-orang di distrik Samara makan daging anak-anaknya sendiri oleh karena laparnya.
Bahwa sesungguhnya, luhurlah sikapnya h. G. Wells penulis Inggris yang masyur itu, seorang yang bukan komunis, dimana ia dengan tak memihak dengan siapa juga menulis, bahwa, umpanya kaum Bolshelvik itu: ttdak dirintang-rintangi mereka barangkali bisa menyelesaikan suatu eksperimen (percobaan) yang maha – faedahnya bagi peri kemanusiaan.... tapi mereka dirintang-rintangi.”.

Kita yang bukan komunis pula, kitapun tak memihak pada siapa juga! Kita hanyalah memihak kepada persatuan-persatuan Indonesia lepada persahabatan pergerakan kita semua.
            Kita diatas menulis, bahwa taktik Marxisme adalah sekarang adaklah berlainan dengan taktik Marxisme yang dulu. Taktik Marxisme yang dulu sikapnya begitu sengit antio kaum kebangsaan dan anti keagamaan, maka sekarang, terutama di Asia, sudahlah begitu berubah, hingga kesengitan “ anti” ini sudah menjadi persahabatan dan penyokongan. Kini kita melihat persahabatan kaum Marxis dengan kaum Nasionalis di negri Tiongkok dan kita melihat persahabatan kaum Marxis dengan kaum Agamis di Aafganistan.
Adapun teori Marxisme sudah berubah pula. Memang seharusnya begitu Marx dan Engel bukanlah nabi-nabi, yang bisa mengadakan aturan2 yang bisa terpakai dalam segala zaman. Teori2nya harus dirubah, kalau zaman itu berubah; teori2nya harislah diikutkan dalam perubahannya dunia, kalau tidak mau menjadi bangkrut. Marx dan Engel sendiri mengerti akan hal ini, mereka sendiripun dalam tulisan2nya sering menunjukkan perubahan paham atau perubahan tentang kejadian2 pada zaman mereka masih hidup. Bandingkanlah pendapay2nya sampai tahun  1847; bandingkanlah pendapatnya tentang arti verelendum sebagai yang dimaksudkan dalam manifest komunis dengan pendapat arti perkataan itu dalam Das Kapital, maka segeralah tampak pada kita perubahan paham atau perubahan perindahan itu. Bahwasannya; benarlah sosial demokrat Emile Vandervelde, dimana ia mengatakan, bahwa revisionisme itu tidak mulai dengan Berenstein, akn tetapi dengan Marx dan Engel adanya.
Perubahan taktik dan perubahan teori itulah yang menjadi sebab, maka kaum Marxis yang muda baik sabar maupun Yang keras terutama di Asia, menyokong pergerakan nasional yang sungguh2. Mereka mengerti, bahwa di negri2 Asia , dimana belum da kaum proletar dalam arti sebagai di Eropa atau di Amerika, pergerakannya haruslah dirubah sifatnya menurut pergaulan hidup di aAsia itu pula. Mereka mengerti, bahwa pergerakan Marxistis di Asia haruslah berlainan taktik dengan pergerakan Marxis di Eropa atau Asia, dan haruslah: bekerja bersama-sama dengan partai2 yang klein-bargerlijk, oleh karena disini yng pertama2 perlu kekuasaan tetapi jalan perlawanan terhadap feodalisme”.
Supaya kaum buruh dinegri Assia bisa dengan leluasa menjalankan pergerakan yang sosialistis sesungguh2nya, maka perlu sekali negri2 itu merdeka, perlu ssekali kaum itu mempunyai nationali otonomi (otonomi nasional). Nationali otonomi adalah suatu tujuan yang harus dituju oleh perjuangan proletar, oleh karena ia ada suatu upaya yang perlu sekali dalam politiknya, begitulah Otto-bauer berkata. Itulah sebabnya, maka otonomi nasional ini menjadi suatu hal yang pertama-tama harus diusahakan oleh pergerakan –pergerakan buruh di Asia itu. Itulah sebabnya, maka kaum buruh di Asia itu wajib bekerja bersama-sama dan menyokong segala pergerakan yang  merebut otonomi nasional itu juga,denganh tidak menghitung-hitung,azaz apakah pergerakan-pergerakan itu mempunyainya.itulah sebebnya,maka pergerakan marxisme indonesia ini haruslah pula menyokong pergerakan-pergerakan  kita yang nasionalistis dan islamistis yang mengambil otonomi itu sebagai maksudnya pula.
Kaum Marxis harus ingat ,  bahwa pergerakannya itu, tak boleh tidak, pastilah menumbuhkan rasa nasionalisme dihati- sanubari kaum buruh Indonesia, oleh karena modal di Indonesia itu kebanyakannya adalah modal asing, dan oleh karena budi perlawanan itu menumbuhkan suatu rasa tak senang dalam sanubari kaum-buruhnya rakyat di-“bawah”terhadap pada rakyat yang di-“atas”nya,dan menumbuhkan suatu keinginan pada nationale machtspolitiek dari  rakyat sendiri mereka   harus ingat, bahwa rasa internasionalisme itu di Indonesia niscaya tidak begitu tebal sebagaimana di Eropa, oleh karena kaum buruh diI ndonesia ini menerima paham internasionalisme itu pertama-tama ialah sebagai takjtik dan oleh karena bangsa indonesia itu oleh”gehechtheid”pada negerinya, dan pula oleh kekurangan kita, belum banyak yang nekad meninggalkan Indonesia, untuk mencari kerja di lain-lain negeri, dengan iktikad: ”ubi bene, ibi patria: dimana  aturan-kerja bagus, disitulah tanah air saja”, -sebagai kaum buruh  di eropa yang menjadi tidak tetap-rumah dan tidak tetap tanah air oleh karenanya
Dan jikalau ingat akan hal-hal ini semuanya, maka mereka  niscaya ingat pula akan salahnya memerangi pergerakan bangsanya yang nasionalistik adanya. Niscaya mereka ingat pula akan teladan-teladan pemimpin-pemimpin Marxis dilain-lain negeri, yang sama bekerja bersama-sama dengan  kaum nasionalis atau kebangsaan.niscaya mereka ingat pula akan teladan pemimpin-pemimpin Marxis di negeri Tiongkok, yang dengan ridho hati sama menyokong usahanya kaum nasionalis,oleh sebab mereka insyaf  bahwa megeri Tiongkok itu pertama-tama butuh persatuan nasional dan kemerdekaan nasional adanya.
Demikian pula, tak pantaslah kaum Marxis itu bermusuhan dan berbenturan dengan pergerakan islam yang sungguh-sungguh. Tak pantas mereka memerangi pergerakan, yang, sebagaimana sudah kita uraikan diatas, dengan seterang-terangnya bersikap anti kapitalisme; tak pantas mereka memerangi suatu pergerakan yang dengan sikapnya anti-riba dan anti bunga dengan seterang-terangnya ialah anti-meerwaarde pula;dan mtak pantas mereka memerangi suatu pergerakan yang dengan seterang-terangnya mengejar kemerdekaan,persamaan dan persaudaraan,dengan seterang-terangnya mengejar nationale autonomie.Tak pantas mereka bersikap demikian itu,oleh karena taktik marxisme baru terhadap agama adalah berlainan dengan taktik marxisme dahulu.marxisme  baru adalah berlainan dengan maxisme dari tahun 1847,yang dalam manifest komunis mengatakan bahwa agama itu harus di”abschaffen” atau di lepaskan adanya.
Kita harus membedakan hitoris materialisme itu dari pada Wijsgerig-materialisme;kita harus memperingatkan,bahwa maksudnya historis materialisme itu berlainan dari pada maksudnya Wijgerig-materialisme tadi,wijgerig materialisme memberi jawaban atas pertanyaan:bagaimanakah hubunganya antara fikiran (demken)dengan benda (materie),bagainamakah fikiran itu terjadi,sedang historis materialisme memberi jawaban atas soal:sebab apakah fikiran itu dalam suatu jaman ada begitu atau begini:Wijgerig materialisme menanyakan adanya (wezen) fikiran itu;historis materialisme menanyakan sebab-sebabnya fikiran itu berubah;wijgerig materialisme mencari asalnya fikiran,historis materialisme mempelajari tumbuhnya fikiran;wijgerig materialisme adalah wijgerik,historis materialisme adalah hostoris.
Dua paham ini oleh musuh-musuhnya maxisme di eropa,terutama kaum gereja,senantiasa di tukar-tukarkan dan senantiasa di kelirukan satu sama lain.dalam propagandanya anti marxisme mereka tak berhenti-henti mengusshakan kekeliruan paham itu;tak berhanti mereka menuduh-nuduh,bahwa kaum marxisme itu ialah yang mempelajarkan,bahwa fikiran itu hanyalah suatu pengeluaran saja dari otak,sebagai ludah dari mulut dan sebagai empedu dari limpa;tak berhenti-henti mereka menamakam kaum marxis adalah suatu kaum yang menyembah benda,suatu kaum yang bertuhankan materi.
Itukah asalnya kebencian kaum marxis eropa terhadap kaum gereja,asalnya sikap perlawanan kaum marxis eropa terhadap kaum agama.dan perlawanan ini bertambah sengitnya,bertambah kebenciannya,dimana kaum gereja itu memakai agamanya untuk melindung-lindungi kapitalisme,memakai-makai agamanya untuk menjalankan politik nyang reaksioner.
Adapun kebencian pada kaum agama yang timbulnya darii sikap kaum gereja nyang reaksioner itu,sudah di jatuhkan pula oleh kaum marxis pada kaum islam,yang berlainan sekali sikapnya dan berlainan sekali sifatnya dari kaum gereja itu.disini agama islam adalah agama kaum yang tak merdeka;disini agama islam adalah kaum yang-“dibawah”.sedang kaum yang memeluk agama kristen adalah kaum yang di-“atas”.tak boleh tidak,suatu agama yang anti kapitalisme,agama kaum yang tak merdeka,yang di-“bawah” ini;agama yang menyuruhn mencari kebebasan,agama yang melarang menjadi kaum “bawahan”,agama yang demikian itu pastilah menyebutkan sikap yang tidak reaksioner,dan pastilah menimbulkan sesuatu perjuangan yang dalam beberapa bagian sessuai dengan perjuangan marxisme
Karenanya,jikalau kaum marxisme ingat akan perbadaan kaum gereja di eropa dengan kaum islam di Indonesia ini,maka niscaya mereka mengacungkan tangannya,sambil berkata:Saudara,marilah kita bersatu.jikalau mereka menghargai akan contoh-contoh saudara-saudaranya seazaz yang sama bekerja bersama-sama dengan kaum islam,sebagai yang terjadi di lain-lain negeri,maka niscaya mereka mengikuti contoh-contoh itu pula.dan jikalau mereka dalam pada itu juga bekerja bersama-sama dengan kaum nasionalis atau kaum kebangsaan,maka mereka dengan tentram hati boleh berkata:Kewajiban kita sudah kita penuhi.
Dan dengan memenuhui segala kewajiban marxis muda tadi itu,dengan memperhatikan segala perubahan teori azaznya dengan menjalankan segala perubahan pergerakannya itu,mereka boleh menyebutkan diri pembela rakyat yang tulus hati,mereka boleh menyebutkan diri garamnya rakyat.
Tetapi Marxis yang ingkar akan persatuan,Marxis yang kolot teori dan kuno taktinya,Marxis yang memusuhi pergerakan kita Nasionalis dan Islamis yang sungguh-sungguh,Marxis yang demikian itu janganlah merasa terlanggar kehormatanya dijakalau dinamakan racun rakyat adanay!
Tulisan kita hampir habis.
Dengan jalan jauh kurang sempurna,kita mencoba membuktikan,bahwa paham nasionalisme,islamisme dan marxisme itu dalamnegeri jajahan pada beberapa bagian menutupi  sama lain.Dengan jalan yang jauh kurang sempurna kita menunjukkan teladan pemimpin-pemimpin dilain negeri.Tetapi kita yakin,bahwa kita dengan terang benerang menunjukkan kemauan kita menjadi mennajadi satu.Kita yakin bahwa pemipmpin-pemipmpim Indonesia semuanya insaf,bahwa Persatuanlah yang membawa kita kearah ke Besaran dan ke Merdekaan.Dan kita yakin pula,bahwa,walaupun pikiran kita itu tidak mencocoki semua kemaun dari masing-masing pihak,ia menunjukkan bahwa persatuan itu bisa tercapai .Sekaranag tinggal menetapkan saja organisasinya,bagaimana Persatuan ini bisa berdiri;tinggal mencari organisatornya yang mempunyai Putra-putra  sebagai Oemar Said Tjokroaminoto,Tjipto Mangunkusumo dan Samaun,apakah Ibu Indonesia itu tak mempuyai pula Putera yagn bisa menjadi Kampiun Persatuan itu?
Kita harus bisa menerima;tetapi kita juga harus bisa memberi inilah rahasianya Persatuan itu.Persatuan tak bisa terjadi,kalau masing-masing pihak tak mau memberi sedikit-sedikit pula.
Dan jikalau kita semua insaf,bahwa kekuatan hidup itu letaknya tidak dalam menerima,tetapi dalm memberi;jikalau kita semua insaf,bahwa dalam percerai beraian itu letaknya benih perbudakan kita;jikalau kita semua insaf,bahwa permusuahn itulah yang menjadi asal kita punya “vio dolorosa”;jikalau kita insaf,bahwa Roh Rakyat Kita masih penuh kekuatan untuk menjunjung diri menuju Sinar yang satu yang berada ditengah-tengah kegelap gilitaan yang mengelilingi kita ini,maka pastilah Persatuan itu terjadi dan pastilah Sinar itu tercapai juga.
Seabab sinar itu dekat!
“Suluh Indinesia Muda”,1926   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar